semenjak diriku terbangun dari tidurku, aku tak tau laju kemana arah hidupku, aku hanya bisa pasrah padamu mungkin dari perjalanan hidupku ini hanya engkou yang ku cari, yaitu cintaku...................................
Nilai Dasar Perjuangan HMI
Sejak
awal HMI telah mencantumkan “Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama
Islam” sebagai salah satu tujuannya, di samping “Mempertahankan dan
mempertinggi derajat rakyat Indonesia”. Dengan demikian, Islam telah
dijadikan sebagai landasan organisasi. Dalam hal ini HMI tidak
mendasarkan diri pada “mazhab” tertentu, walau kemudian dalam pola
pemikirannya HMI cenderung sebagai kelompok intelektual muslim
pembaharu.
Dari
situ HMI menuangkan pemahaman keislamannya yang tertampung dalam sebuah
buku pedoman yang diberi nama Nilai Dasar Perjuangan (NDP). NDP
merupakan gambaran bagaimana seorang HMI memahami Islam sebagaimana
tercantum dalam al-Quran. Secara doktrin, yang terkandung dalam NDP
bukanlah ajaran yang bertentangan dengan Islam, melainkan merupakan
formulasi kembali atas al-Quran sehingga tertuang menjadi suatu
kepribadian bagi kader HMI dalam mewujudkan amanat Tuhan sebagai khalifah fil-ardhi.
NDP
adalah landasan ideologis perjuangan HMI, sebagai ruh yang mendorong
moral pergerakan kader. Pemahaman terhadap NDP diharapkan dapat
menumbuhkan kepercayaan diri kader akan keyakinan ilahiahnya, membangun
semangat humanisme dalam interaksi dengan sesama manusia, dan sebagai
sumber nilai moral yang mengiringi ilmu pengetahuan untuk diabdikan bagi
kemanusiaan. Dengan demikian nilai-nilai NDP bisa menjadi identitas
yang khas bagi kader-kader HMI.
Sejarah Perumusan
Rumusan
NDP seperti yang kita lihat sekarang bukanlah hasil yang sekali jadi,
melainkan hasil perkembangan pemikiran dan penghayatan mendalam atas
sejarah perjuangan HMI secara keseluruhan. Bahkan kalau kita hitung
jarak antara berdirinya HMI dengan perumusan NDP, tercatat waktu lebih
20 tahun.
Secara
sosiologis, NDP dirumuskan dalam kancah pertarungan ideologi-ideologi
besar yag ada pada saat itu. Nasionalisme Bung Karno, Komunisme PKI, dan
Sosialisme PSI adalah ideologi-ideologi yang secara umum berebut
pengaruh. Di samping itu yang juga mendorong perumusan NDP adalah
perlawatan Nurcholish Madjid ke Amerika (Oktober 1968) atas beasiswa
sebagai pemimpin mahasiswa dari Council for Leaders and Specialist,
Washington. Namun menurutnya yang banyak memberikan terhadap sikap dan
gagasannya bukan itu, melainkan kunjungannya ke beberapa negara di Timur
Tengah (Turki, Libanon, Syiria, Irak, Kuwait, Saudi, Sudan dan Mesir)
selama empat bulan setelah lawatannya ke Amerika.
Faktor-faktor berikut dikemukakan Cak Nur sebagai hal yang menginspirasikan perumusan NDP: pertama, tidak adanya bacaan yang komprehensif dan sistematis tentang ideologi Islam. Kedua, kecemburuan terhadap anak-anak muda komunis yang oleh partainya disediakan buku pedoman kecil berjudul Pustaka Kecil Marxis (PKM). Ketiga, ketertarikan terhadap buku kecil yang ditulis oleh Willy Eihleir, Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Socialis. Tulisan ini merupakan upaya reformasi ideologis bagi partai sosialis demokrat Jerman di Jerman Barat.
Karena
itu jelas bahwa dari latar belakang perumusannya Nurcholish Madjid
ingin menempatkan NDP sebagai idelogi bagi HMI, yang diharapkan dapat
menandingi ideologi-ideologi lain yang berkembang pada saat itu.
Iman Ilmu Amal
Secara
garis besar, ada tujuh persoalan yang dibahas dalam NDP. 1) Dasar-dasar
Kepercayaan; 2) Pengertian-pengertian Dasar tentang Kemanusiaan; 3)
Kemerdekaan Manusia (ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir); 4)
Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan; 5) Individu dan Masyarakat;
6) Keadilan Sosial dan Ekonomi; 7) Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan.
Ketujuh persoalan itu secara sederhana dapat diintisarikan dalam tiga
kata: iman, ilmu, amal.
Iman,
adalah bentuk kepercayaan yang paling mendasar dalam diri manusia.
Hidup yang benar dimulai dengan iman yang benar. Iman yang benar adalah
percaya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, disertai takwa, yaitu
keinginan mendekat serta kecintaan kepadaNya. Manusia berhubungan dengan
Tuhan dalam bentuk penghambaan atau penyerahan diri (islam),
berupa ibadah (pengabdian formil/ritual). Ibadah mendidik individu agar
tetap ingat kepada Tuhan dan berpegang teguh pada kebenaran sebagaimana
dikehendaki oleh hati nurani yang hanif. Dengan ibadat, manusia dididik
untuk memiliki kemerdekaannya, kemanusiaannya, dan dirinya sendiri;
sebab ia telah berbuat ikhlas, yaitu memurnikan pengabdian hanya kepada
kebenaran (Tuhan) semata-mata. Inilah yang disebut tauhid. Lawannya
adalah syirik, yaitu memperhambakan diri kepada sesuatu selain Tuhan.
Syirik merupakan kejahatan terbesar bagi kemanusiaan karena sifatnya
yang meniadakan kemerdekaan asasi.
Tuhan
adalah mutlak. Kebenaran Tuhan dengan demikian bersifat mutlak. Yang
selain Tuhan (baca: manusia) adalah relatif. Namun sudah merupakan tugas
sejarah bagi yang relatif ini untuk terus-menerus berupaya mencapai
Yang Mutlak, karena dari sanalah manusia berasal dan kepada-Nyalah
manusia kembali. Kembali kepadaNya berarti menuju kepada Kebenaran.
Namun Kebenaran yang sifatnya mutlak tidak mungkin dicapai oleh manusia.
Manusia hanya dapat mencapai kebenaran-(kebenaran) yang relatif. Untuk
itu manusia memerlukan ilmu, yang merupakan alat manusia untuk
mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran itu. Sekalipun relatif,
kebenaran-kebenaran itu merupakan tonggak sejarah yang mesti dilalui
manusia dalam perjalanan menuju Kebenaran Mutlak.
Ilmu
adalah pengertian yang dipunyai oleh manusia secara benar tentang alam
dan dirinya sendiri. Hubungan manusia dengan alam bersifat penguasaan
dan pengarahan. Alam tersedia bagi manusia untuk kepentingan pertumbuhan
kemanusiaan. Penguasaan dan pengarahan itu tidak mungkin dilaksanakan
tanpa pengetahuan tentang hukum-hukumNya yang tetap (sunnatullah). Pengetahuan itu dapat dicapai dengan mendayagunakan intelektualitas rasionalitas secara maksimal.
Manusia
adalah makluk sosial, hidup di antara dan bersama manusia-manusia lain
dalam hubungan tertentu. Oleh karena itu manusia tidak mungkin dapat
memenuhi kemanusiaannya dengan baik tanpa berada di tengah sesamanya.
Iman dan ilmu saja tidaklah berarti apa-apa jika tidak diterapkan dalam
bentuk kerja nyata bagi kemanusiaan. Inilah yang disebut amal.
Kerja kemanusiaan atau amal saleh mengambil bentuknya yang utama dalam
usaha yang sungguh-sungguh secara esensial menyangkut kepentingan
manusia secara keseluruhan, yaitu menegakkan keadilan dalam masyarakat
sehingga setiap orang memperoleh harga diri dan martabat sebagai
manusia. Usaha ini disebut amar ma’ruf. Lawannya disebut nahi munkar,
yaitu mencegah segala bentuk kejahatan dan kemerosotan nilai-nilai
kemanusiaan. Dalam bentuk yang lebih konkrit, usaha ini diwujudkan
misalnya melalui pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas, serta
usaha ke arah peningkatan nasib dan taraf hidup mereka yang wajar dan
layak sebagai manusia.
Dengan
integrasi iman, ilmu, dan amal itulah manusia akan mampu memenuhi
kodratnya, yaitu sebagai hamba di hadapan Tuhan dan sebagai khalifah di
hadapan alam. Cita-cita ideal HMI kiranya tertuang dalam NDP tersebut.
menjadi manusia kreatif yang mampu berinovasi dalam kerja-kerja nyata
demi mempertinggi harkat kemanusiaan (amal saleh); disertai ilmu sebagai
alat untuk melakukan itu; dan tentu saja dilandasi oleh iman yang
benar.
Status NDP
Selama
ini HMI dikenal dengan tradisi pembaharuannya. Dalam pembaharuan akan
selalu ada kritik dan otokritik terhadap segala sesuatu yang ada. Hal
ini memungkinkan adanya perbaikan dan pengembangan ke arah yang lebih
baik.
Meskipun NDP berpretensi ideologis, NDP tidak boleh diperlakukan sebagai dogma yang taken for granted
oleh kader-kader HMI. NDP bagi HMI tidaklah sama dengan al-Quran bagi
umat Islam. Bagaimana pun NDP adalah buatan manusia. Karena itu meskipun
perumusannya didasarkan pada wahyu yang bersifat mutlak, NDP tak lebih
dari sekadar hasil interpretasi manusia yang nilai kebenarannya relatif.
NDP bolehlah dikatakan sebagai satu usaha berupa landasan filosofis
untuk mencapai Yang Mutlak, Kebenaran, yaitu Tuhan itu sendiri.
Keberadaan NDP harus disikapi secara kritis. Cak Nur sendiri, selaku
salah seorang perumus NDP, ketika ditanya apakah NDP masih relevan
dengan kondisi sekarang ataukah perlu diganti, mengatakan bisa saja,
asal tingkat intelektualitasnya tidak lebih rendah dari yang ada
sekarang.
Referensi
Modul Perkaderan HMI terbitan HMI Cabang Ciputat 1993-1994.
Kumpulan makalah Pusdiklat Regional Pemahaman Nilai Identitas Kader, HMI Badko Jawa Bagian Tengah, Juli 1999.
Hasil-hasil Kongres 22 di Jambi.
Catatan
Tulisan ini awalnya ditulis sebagai syarat mengikuti Senior Course (SC) di HMI Cabang Jakarta bulan Februari tahun 2003.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar